Modernisasi Pondok Pesantren Gontor

Pembaharuan di Pondok Gontor mencakup setidaknya tiga aspek modernisasi: aspek kelembagaan, manajemen, dan organisasi pesantren, kurikulum, metode dan sistem pendidikan.

Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam lebih menekankan pada keseimbangan dan keserasian perkembangan hidup manusia. Pendidikan Islam adalah pendidikan keberagaman yang berlandaskan keimanan yang berdiri diatas filsafat pendidikan yang benar.

Studi Prinsip- Prinsip Dasar Metode Pengajaran Bahasa Arab

Ada lima prinsip dasar dalam pengajaran bahasa Arab asing, yaitu prinsip prioritas dalam proses penyajian, prinsip koreksitas dan umpan balik, prinsip bertahap, prinsip penghayatan, serta korelasi dan isi

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Runtuhnya Sumber Daya Manusia.

Saturday, September 14, 2013

Beberapa Tokoh2 filsafat islam kontemporer

Oleh : Ahmad Syauqi Mubarak / AF 2
Al-Kindi
Ilmuwan kelahiran Kufah, 185 H/801 M itu bernama lengkap Abu Yusuf Ya'qub bin Ishak bin Sabah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin Al-Asy'ats bin Qais Al-Kindi. Ia berasal dari sebuah keluarga pejabat. Keluarganya berasal dari suku Kindah salah satu suku Arab yang besar di Yaman sebelum Islam datangAyahnya bernama Ibnu As-SabahKakeknya Asy'ats bin Qais kakeknya AL-Kindi dikenal sebagah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Bila ditelusuri nasabnya, Al-Kindi merupakan keturunan Ya'rib bin Qathan, raja di wilayah Qindah.
Baginya, filsafat adalah ilmu dari segala ilmu dan kearifan dari segala kearifan. Filsafat, dalam pandangan Al-Kindi bertujuan untuk memperkuat agama dan merupakan bagian dari kebudayaan Islam.
Al-farabi
Nama sebenarnya Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Tarkhan Ibnu Uzlaq Al Farabi. Beliau lahir pada tahun 874M (260H) di Transoxia yang terletak dalam Wilayah Wasij di Turki. Bapanya merupakan seorang anggota tentera yang miskin tetapi semua itu tidak menghalangnya daripada mendapat pendidikan di Baghdad. Beliau telah mempelajari bahasa Arab di bawah pimpinan Ali Abu Bakr Muhammad ibn al-Sariy.
Al-Farabi banyak mengkaji mengenai falsafah dan teori Socrates, Plato, dan Aristotle dalam usahanya untuk menghasilkan teori serta konsep mengenai kebahagiaan. Maka tidak hairanlah, Al-Farabi dikenali sebagai orang yang paling memahami falsafah Aristotle. Dia juga merupakan seorang yang terawal menulis mengenai ilmu logik Yunani secara teratur dalam bahasa Arab.

Al-Qur’an Sebagai Fundamen Pemimpin Bangsa

Oleh : A'yan Galang Lombok / Hk Ekonomi Syari'ah 5
Syukur alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah subahanahu wata’ala karenanyalah, sampai saat ini penulis masih diberikan kesehatan. Shalawat serta salam tak lupa penulis haturkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW, berkat perjuangan beliaulah, Islam mapu kita rasakan sampai saat ini.
     Kata “pemimpin” selalu identik dengan kata “penguasa”. Namun sungguh sangat disayangkan ketika kepemimpinan akan suatu penguasaan seringkali disalahgunakan, bukan karena kecerdasan intelektualitas mereka yang belum memadai, melainkan belum terciptanya standar baku untuk para pemimpin tersebut. Maka dalam hal ini, standar baku yang penulis maksudkan adalah Al-Qur’an. Tentu disini, al-qur’an harus menjadi fundamen utama bagi setiap pemimpin atau penguasa, khususnya Muslim.

Dewasa ini, kepemimpinan seorang pemimpin muslim khususnya di Indonesia, lebih tampak pada sisi-sisi negatif yang meliputi, penyelewengan kekuasaan, asusila, tindak pidana (narkoba, suap, ilegaloging dsb). Walupun terdapat sisi-sisi positif, hal tersebut tak sebanding dengan apa yang diharapkan. Dan menurut hemat penulis, hal ini terjadi, karena kepemimpinan yang disalahartikan.
          Berdasarkan permasalahan diatas, penulis ingin membahas lebih lanjut akan pentingnya Al-Qur’an sebagai fundamen pemimpin bangsa, yang pada akhirnya akan memberikan sedikit pencerahan bagi para pemimpin untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai undang-undang diatas undang-undang, atau dengan bahasa lain, menjadikan Al-Qur’an sebagai super power dan rujukan dalam setiap tindakan suatu kepemimpinan, dan olehnya, akan membentuk kepemimpinan atau pemimpin-pemimpin yang berkarakter qur’ani.

Al-Qur’an Sebagai Fundamen Pemimpin Bangsa

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diyakini individu muslim sebagai sebuah kitab yang berisi wahyu Allah SWT dan segala ragam hukum yang terdapat di dalamnya berada diatas hukum apapun yang diciptakan oleh manusia[1], sedangkan istilah pemimpin ialah seseorang yang memiliki kekuasaan penuh untuk membawa serta mengarahkan masyarakat, kelompok dan sebagainya kepada hal-hal yang positif. 
          Pindah dari kedua definisi singkat diatas penulis akan mengulas keterkaitan singkat antara Al-Qur’an yang dijadikan acuan dalam kepemimpinan yang kemudian akan berdampak pada karakteristik pemimpin tersebut. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman yang artinya:
          "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)". (Qs: Al-A’raf :3)
          Dan dalam ayat lain Allah berfirman:
          “Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. (Qs: Al-A’raf :69).
          Disini dinyatakan bahwa manusia dijadikan pengganti-pengganti (pemimpin, penguasa). Berikut ini adalah beberapa kriteria-kriteria pemimpin menurut Al-Qur’an ialah.

1.      Taat Kepada Allah dan Rasulnya
          Firman Allah SWT, "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya)”. (Qs: An-Nisaa’:59).
          Sekilas, dari potongan ayat diatas mengingatkan bahwa seorang pemimpin haruslah tunduk pada hukum-hukum Allah dan Rasullullah, bukan kepada otoritas hukum selain itu. Karena hal tersebut akan berdampak pada taggung jawab pemimpin yang tengah digariskan Nabi dalam haditsnya yaitu, "Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. (HR Bukhari). Begitu pula dengan ayat yang terkandung dalam surat Yunus ayat 14 yang artinya, Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat”.

2.      Ikhlas
          Dalam Al-Qur’an ikhlas juga menjadi karakteristik seorang pemimpin dan ikhlas disini selain sebagai salah satu dari sekian kriteria pemimpin, juga merupakan kritik terhadap pemimpin yang selalu menuntut hak tanpa peduli akan kewajiban. Adapun intens Ikhlas tentu, yang dimaksud dalam hal ini adalah, posisi seorang pemimpin harus mampu terbuka untuk menerima segala kritikan serta masukan dari apa yang dipimpin (Masyarakat) dengan kata lain ia mampu menjadi selayaknya botol kosong yang siap diisi, mampu menjadi teladan bagi orang lain. Sesuai dengan konteks Ikhlas diatas, Allah swt berfirman yang artinya: Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Qs: Al-‘Ashr :3).
          Dan Itulah mengapa kesucian sangat diutamakan dan ini tercermin dari kitab-kitab fiqih yang selalu diawali dengan bab-bab Thaharah (kesucian).

3.      Menempatkan Sesuatu Pada Tempatnya
          Sebagai seorang pemimpin, sungguh tidak disahkan jika ia tidak menaruh sesuatu pada tempatnya. Seseorang dengan kemampuan tertentu pada jabatan yang seharusnya, karena penempatan sesuatu pada tempatnya pernah disinggung Rasulullah yang diabadikan dalam hadits yang artinya, "Barang siapa yang menempatkan seseorang karena hubungan kerabat, sedangkan masih ada orang yang lebih Allah ridhoi, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin". (HR Al Hakim).
          Lagi-lagi humanisme menjadi bahasan dalam kasus ini. Sepanjang penempatan pada tempatnya belum mampu terealisasikan dengan baik, maka ketimpangan-ketimpangan akan acap kali terjadi. Di dunia barat, karena humanisme yang begitu  tinggi, sehingga manusia dijadikan ukuran[2]. Mereka sulit memosisikan kepemimpinan sebagaimana mestinya. Jadi, sebagai seorang pemimpin muslim harus pandai dan cekatan memosisikan diri, antara urusan pribadi dan publik, karena hal ini akan berdampak pada keadilan, ketegasan serta keputusan pemimpin itu sendiri.

4.      Kuat dan Amanah
Jika ditinjau kembali tentang sejarah panjang perjalanan Nabi Muhammad SAW, kuat dan amanah merupakan karakteristik pemimpin yang beliau teladankan kepada para sahabat. Oleh karenanya, seorang pemimpin sejati mampu mengambil apa-apa yang tengah diteladankan Nabi kepada para sahabat dan perintah ini sesuai dengan Kalamullah yang artinya: "Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (Qs : Al-Qashash: 26).

5.      Profesional
"Sesungguhnya Allah sangat senang pada pekerjaan salah seorang di antara kalian jika dilakukan dengan profesional" (HR : Baihaqi)[3]
Karakteristik terakhir yang penulis paparkan ini merupakan suatu keahlian yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin muslim agar menjadi sosok pemimpin yang berkarakter qur’ani. Tanpa profesionalitas, seorang pemimpin belum sampai pada taraf kepemimpinan yang baku, jika keahlian (memahami al-Qur’an) dalam memimpin
sangat minim.

Solusi Terwujudnya Al-Qur’an Sebagai Fundamen Pemimpin Bangsa

          Agar tercipta suatu ekosistem kepemimpinan yang berkarakter qur’ani, tentu tidak seperti membalikan telapak tangan, melainkan membutuhkan proses yang sangat panjang. Jika hal ini dipikirkan akan sangat sulit untuk dikerjakan. Namun sebalikanya, jika hal ini dijalankan maka akan terasa ringan dan mudah tanpa harus dipikirkan. Diantara solusi yang penulis tawarkan antara lain: Pertama ialah Pembenahan pada pendidikan rumah tangga akan pentingnya pemimpin-pemimpin masa depan yang berasaskan Al-Qur’an. Kedua, keteladanan orang tua akan hal tersebut, Ketiga, menciptakan tradisi yang baik dalam berumah tangga maupun bermasyrakat, dan yang Keempat adalah kembali pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan dari setiap tindakan.

          Sebagai suatu kesimpulan, dalam surat Ali-Imran Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”, (Qs. Al-Imran; 191).
          Dan dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”, (Qs : Qurisy; 4).
          Maka dari kedua ayat singkat diatas mampu menjadi ikhtisar penulisan Esay bahwa, Pemimpin yang menjadikan Al-Qur’an sebagai Fundamen kepemimpinan adalah “mereka yang selalu ingat kepada Allah SWT dalam setiap keadaan dan menjamin bahwa rakyatnya tidak kelaparan dan dihantui rasa takut[4], dengan ini realisasi “Al-Qur’an Sebagai Fundamen Pemimpin Bangsa” dianggap penting, agar terbentuknya pemimpin-pemimpin yang berkarakter al-qur’an yang tunduk kepada aturan-aturan Allah SWT yang telah dijelaskan dalam firman-firman-Nya.

Gontor, Kampus Siman 14 September 2013


[1]. Khalid Ibrahim Jindan, “Teori Pemerintahan Islam Menurut Ibnu Taimiyah”,  Jakarta, Anggota IKAPI, 1994, hal. 54
[2] . Hamid Fahmy Zarkasyi, “Misyikat Refleksi Tentang Islam, Westernisasi dan Libralisasi”, Jakarta, INSIS, 2012, hal. 84.
[3] . Buka; "http://new.drisalah.com/index.php/inspirasi/25-pemimpin-dalam-islam.html".
[4] . Buka; "http://www.youtube.com", (Bachtiar Nasir “Membentuk Pemimpin dan Umat Berkarakter Qur’ani”, seminar Nasional, Universitas Al Azhar Indonesia, 11 Januari 2013). 

Strategi Genius Bisnis Ala Rasulullah

Oleh : Muhammad Iqbal bin Adam / Ekonomi syari'ah 4
Pada dasarnya, suku kata bisnis merupakan istilah yang sering kali ditekankan pada tiga hal yang mencakup: 1. Usaha perseorangan secara kecil-kecilan. 2. Usaha besar seperti pabrik, transport, restoran, hotel dll. 3. Usaha dalam bidang srtuktur ekonomi suatu bangsa dan negara.
Sederhananya, jika dipahami secara simplifikatif, bisnis bisa diartikan sebagai suatu lembaga yang menghasilkan barang maupun jasa untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Bagi seorang muslim yang sudah seharusnya konsep strategi marketing dan etika bisnis diterapkan dalam semua bidang usaha bisnis dengan berpegang teguh pada al-quran dan hadits nabawiyah. Karena memang pada dasarnya, dalam ajaran suci agama islam keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan yang bisa diibaratkan seperti sudut magnet utara bertemu dengan sudut magnet selatan.
Islam adalah sumber nilai dan etika dalam segala aspek kehidupan manusia secara menyeluruh, tanpa terkecuali dalam wacana bisnis, mulai dari prinsip dasar faktor-faktor produksi, pokok-pokok kerusakan dalam perdagangan, tenagakerja, modal organisasi, distribusi kekayaan, masalah upah, barang dan jasa, kualifikasi dalam bisnis, hingga pada persoalan etika sosio-ekonomik yang berkaitan erat dengan hak milik dan hubungan sosial.
Rasulullah SAW tidak hanya tercatat sebagai Rasul penyempurnaan agama-agama semitisme, melainkan juga tercatat sebagai pakar ekonomi dengan predikat international.
Beberapa hal mendasar yang mesti kita ketahui tentang Rasulullah SAW dalam bidang bisnis ini diantaranya:
·         UpayaRasulullah SAW dalam hal merintis bisnisnya. Bahwasanya mentalitas dan karakter kepribadian merupakan aspek dari kesuksesan di dunia bisnis.
·         Ketekunan Rasulullah SAW serta kejelian dan kesuksesan bisnis yang dijalaninya. Hal ini berkaitan erat dengan pengalaman bisnis beliau baik itu tentang strategi pemasaran, customer service, maupun bagaimana cara Rasulullah SAW menghadapi para pesaing.
·         Nasihat-nasihat Rasulullah SAW yang kemudian bermetamorfosis menjadi kiat-kiat sukses untuk para pebisnis modern. Tentunya tidak hanya sukses di dunia, melainkan juga sukses di akhirat.
·         Seperti yang telah kita ketahui bahwasannya  kunci sukses dalam memenangkan persaingan terletak pada tingkat penambahan pelayanan, kualitas termasuk juga memberikan kemudahan pada konsumen guna untuk mempromosikan produk yang kita tekuni.
·         Konsep semacam ini didukung oleh US News and World Report yang menyebutkan bahwa 69% penyebab pelanggan pindah dari perusahaan ke perusahaan yang satu ke yang lainnya adalah karena pelayanan kurang kurang baik. Sementara produk yang tidak baik menempati pada peringkat kedua, yakni 12%, harga 10%, dan lokasi 9%.
·         Sederhananya dalam marketing, pelayanan berada pada peringkat pertama. Sementara, konsep strategi markiting ala Rasulullah dengan sangat jelas menempakan pelanggan sebagai raja. Dari sini dapat kita ketahui bahwa sejak abad ke 14 yang lalu, Nabi SAW telah menerapkan dan mengetahui konsep ini.
Secara de facto, dari jejak sejarah hingga realitas yang terjadi dewasa ini,notabene kensep bisnis yang bermuara dari kapitalisme dan sosialisme mengabaikan etika dalam berbisnis. Adapun islam yang telah lahir sejak abad pertengahan sudah menyadari akan pentinganya etika dalam berbisnis. Sederhananya, sebenarnya etika bisnis bukan wacana baru dalam islam. Bahkan, tidak sedikitnya ayat-ayat suci al-quran yang menyinggung tentang bisnis. Perhatikan firman Allah Swt berikut ini:
فاذا قضيت الصلاة فانتشروا في الآرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثىرا لعلكم تفلحون(10)
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah serta ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung.” (QS. Al-jumu’ah[62]:10).
Dalam kitab suci al-quran disinggung pula tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis, saling ridha dalam berbisnis serta bebas dari kecurigian atau penipuan, semisal membuat administrasi kredit dalam bisnis. Seperti yang dijelaskan di al-quran. Lihat QS: Al-Baqarah[2]:(282).
Pada saat berniaga, beliau tidak hanya sebatas melakukan berbagai macam transaksi, melainkan juga mempraktikkan tata cara mind share, market share, heart share dengan begitu elegan. Hal ini terbukti dengan kemampuan Rasulullah SAW dalam memosisikan dirinya pada segmen pasar bisnis yang dituju.
Saat melakukan transaksi perdagangan, Rasulullah SAW tidak hanya menyentuh atau memperhatikan faktor geografis dan demografi, melainkan juga menyentuh dan memperhatikan faktor psikologis serta individu sebagai segmen pasar terkecil. Kehebatan Rasulullah SAW dalam melancarkan kiat-kiat strategi bernegosiasi hingga keterbukaan dalam bertransaksi menjelmakan kemampuan beliau dalam hal merebut market share dan konsumen.

Rasulullah juga peka dan mampu memahami kondisi pasar pada saat itu. Beliau mengetahui bahwa jumlah permintaan (demand) jauh lebih tinggi daripada jumlah penawaran (supply). Tidak salah lagi,ketika barang dagangan orang-orang Quraisy Makkah habis terjual, para konsumen pun kemudian berbondong-bondong membeli barang dagangan beliau dengan harga normal. Maka beliau mendapatkan profit yang lebih.

Gontor, Kampus Siman 14 September 2013

Teladan vs Telatan

Oleh : Muhammada Khafidh Ngawi / Ekonomi Syari'ah 5
Sebagai Muslim yang beriman, sudah sepantasnya kita menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai figur pemimpin serta suri teladan dalam segala hal. Akan tetapi, menjadi teladan yang baik tidaklah semudah angkat bicara. Dibutuhkan suatu sikap dan jiwa siap berkorban demi merealisasikannya. Dalam ranah kontemporer ini, banyak sekali sikap pemimpin umat muslim yang tidak patut untuk dijadikan teladan bagi rakyatnya. Terutama dalam efisiensi waktu.
Seorang pemimpin perusahaan yang tidak dapat mengefisiensikan waktunya, akan berimbas pada cara kerja karyawannya. Mereka cenderung mengikuti apa yang dilakukan pimpinan perusahaannya. Bila pimpinannya saja terlambat masuk kerja, maka tidak perlu kaget bila para karyawannya juga sering bolos kerja. Dan bila karyawan ditegur, maka alasan yang tak terbantahkan akan terlontarkan, “Si Bos aja telat sampai lebih dari sejam”.
Semakin dewasa, seharusnya manusia harus dapat membedakan hal-hal yang penting, kurang penting, dan tidak penting. Ingatkah ketika masih duduk di SD kita datang setengah jam lebih awal dari jam masuk sekolah? Ketika SMP kita datang seperempat jam sebelum masuk jam sekolah. Hingga akhirnya ketika kuliah seorang dosen datang lebih awal daripada mahasiswanya. Dengan beribu alasan mahasiswa mengutarakan alasan keterlambatannya. Padahal generasi muda merupakan generasi penerus. Kalau generasi penerusnya dari waktu ke waktu semakin tidak dapat menghargai waktu, maka akan dibawa ke mana umat muslim ke depannya?
Ironis memang, tetapi di sinilah problematika terbesar suatu organisasi, perusahaan, dan negara. Bergantinya fungsi teladan menjadi telatan merajalela. Oleh karenanya, Allah SWT telah mengingatkan kita akan pentingnya waktu. Bahkan Allah juga Bersumpah atas nam waktu:
والضحى﴿1  والليل إذا سجى ﴿2
“Demi waktu dhuha. Dan demi (waktu) malam apabila telah sunyi.” (Adh-Dhuhaa: 1-2)
Sebegitu besarnya penghargaan Allah SWT kepada waktu. Sedangkan manusia yang hanya sebatas makhluk-Nya malah berleha-leha dan menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, malah mengerjakan hal-hal yang tidak berguna.
Tradisi teladan telah berubah menjadi telatan berefek pada generasi penerus sebagai kaderisasi kita sekarang. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, muridnya murid kencing sambil terbang” mungkin inilah peribahasa yang perlu kita garis bawahi dalam hal ini. Teladan akan melahirkan muslim yang baik dan tepat waktu. Sedangkan telatan akan menimbulkan kemalasan dan kemerosotan moral. So, what will we choose, “teladan atau telatan?”

Gontor, Kampus Siman 14 September 2013

Pentingnya Memahami Ilmu Perbandingan Agama

Oleh : Muhammad Miftahussurur Surabaya / PA 2
Kehidupan manusia yang penuh dengan ketergantungan membuat kita selalu membutuhkan suatu Dzat yang kita gunakan sebagai sandaran dalam menghadapi setiap problematika kehidupan. Hal ini memicu setiap insan untuk mencari kebenaran dan rahasia Sang Pencipta akan hakekat dari penciptaan manusia. Sehingga dari berbagai macam pemikiran dan karakter, akhirnya muncullah berbagai macam keyakinan dalam hidup yang berbeda-beda.
Masing-masing dari kita memegang teguh keyakinan kita, atau kita sering menyebutnya dengan Agama. Pada dasarnya kita menganggap bahwa agama yang kita yakini adalah benar, karena sejak kecil kita telah diajarkan tentang norma-norma serta hukum dalam agama oleh orang tua kita atau lingkungan sekitar. Maka terkadang tidak heran ketika masing-masing dari kita berpindah keyakinan ketika menjelang dewasa. Adapun faktor-faktor yang mendukung anak tersebut untuk berpindah agama adalah untuk mencari keyakinan yang diyakini bahwa hal itu merupakan yang paling benar. Itulah sebabnya mengapa setiap dari kita harus memahami ilmu Perbandingan Agama. Bahkan dari kesalahpahaman terhadap agama dapat menimbulkan kesesatan yang mengakibatkan peperangan untuk menjunjung tinggi keyakinan tersebut, seperti perang salib dan Holocaust. Namun berbeda pada periode terakhir saat ini yang kebanyakan dari mereka menggunakan para misionaris yang tersebar di berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia yang bertugas untuk menyebarkan agama mereka.
            Islam, Kristen, Yahudi, dan agama lainnya adalah agama yang memiliki tujuan sama. Yaitu menyembah pada Sang Penguasa namun dengan keyakinan yang berbeda-beda. Salah satu dari perbedaan tersebut adalah dalam pelaksanaan ibadah dan proses turunnya wahyu. Dari beberapa hal inilah para misionaris memanfaatkan cela yang terdapat dalam masing-masing ajaran yang membutuhkan pemahaman mendalam untuk mengacaukan iman serta keyakinan bagi orang-orang yang masih awam terhadap pemahaman agama. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan terbesar mengapa memahami ilmu Perbandingan Agama sangatlah penting. Karena dengannya kita bisa menemukan kebenaran dari setiap agama dan sebaliknya. Sehingga kita bisa menemukan manakah agama yang paling benar. Adapaun Prof. Dr. H. Mukti Ali dalam bukunya Ilmu Perbandingan Agama (Sebuah Pembahasan tentang Metodos dan sistema), mengungkapkan beberapa kegunaan dan manfaat ilmu Perbandingan Agama bagi seorang muslim adalah :
   1.      Untuk memahami kehidupan bathin, alam pikiran, dan kecendrungan hati pelbagai umat manusia.
   2.      Untuk mencari dan menemukan segi-segi persamaan dan perbedaan antara agama Islam dengan agama-agama bukan Islam.
   3.      Untuk menumbuhkan rasa simpati terhadap orang-orang yang belum mendapat petunjuk tentang kebenaran, serta menimbulkan rasa tanggung jawab untuk menyiarkan ebenaran-kebenaran yang terkandung dalam agama Islam kepada masyarakat ramai.
            Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa mempeajari ilmu Perbandingan Agama merupakan landasan penting sebagai iman dan keyakinan kita untuk menemukan kebenaran dari tiap-tiap ajaran yang kita terima sekaligus sebagai benteng untuk melindungi diri dari pemurtadan yang dilakukan oleh para misionaris sekaligus mencegah untuk timbulnya kesalapahaman terhadap masing-masing agama supaya timbul rasa saling menghormati satu sama lain yang berbeda agama. Adapun manfaat lainnya adalah sebagai sarana dakwah untuk mengajak kepada agama yang paling benar.

Gontor, Kampus Siman 14 September 2013